Selasa, 12 Juli 2016

Dari Kamu Aku Belajar Mengikhlaskan

Rutin setiap hari Sabtu di pagi hari aku selalu merapikan apartemenku yang luasnya tak seberapa. Entah untuk merapikan meja kerjaku, tumpukan buku di rak koleksiku atau hanya sekedar untuk membersihkan meja dari debu di depan tv.
Tiba-tiba smartphoneku yang berada di kamar sayup-sayup terdengar berbunyi panggilan masuk.

“Halo Al, lagi sibuk ga? Aku mau bicara"
"Engga kok, Bay. Ada apa?"
"Alya, maafin aku harus jujur. Mungkin ini akan pahit nantinya. Tapi aku harus benar-benar bicara sama kamu"
"Iya ada apa, Bayu?"
"Aku merasa hubungan kita terlalu flat. Kamu yang sibuk dengan pekerjaan kamu, sedangkan aku juga sibuk dengan tesis aku di sini. Aku gatau keuntungan kita bersama apa. Karena aku ga liat kepedulian kamu dengan aku. Makanya, beberapa kali aku nanya sama kamu tentang perasaan kamu ke aku. Sejujurnya aku sedang dekat dengan seseorang yang membuatku nyaman karena kepeduliannya dan waktunya lebih pas denganku. Ga kaya kamu. Kita sekarang berbeda banget al. Entah kamu merasa hal yang sama denganku atau tidak" 

Aku mencoba mendengarnya dengan logikaku. Benar semua. Kataku dalam hati.

"Aku mengerti, apa yang kamu bicarain. Aku bisa bilang sebagian besar dengan jawaban 'ya'. Tapi aku ga liat gentle nya kamu saat ini. Karena kamu bicara ingin pisah hanya melalui telpon. Ini bukan main-main, Bay. Ayo kita bertemu dan tunjukkan bahwa kamu gentle. Temui aku setelah kamu sampai di Indonesia, lusa. Di tempat kita biasa, jam 7 mas. Kamu masih ingat?"

Klik. Ku putuskan langsung sambungan telepon tersebut.

Semudah itu? Hahaha. Aku tertawa dalam hatiku. Entah aku harus senang atau sedih. Tapi memang ada benarnya juga jika aku berpikir sesederhana itu. Aku memang sudah cukup lama memikirkan tentang hubunganku dengan Mas Bayu. Sekarang yang aku butuhkan memang hanya bersikap, berusaha untuk mengakui kesalahan dan mengevaluasi diri. Karena aku pikir kita telah sama-sama dewasa, bukan?

Kenapa kamu gak marah saat dia mengakui bahwa ada orang lain? Kenapa kamu ga marah saat dia berbicara hal sepenting itu melalui telepon? Batinku sebenarnya terus-menerus bertanya-tanya. Beda dengan logikaku saat ini. Ah iya, bukankah seseorang dapat berubah? Bukankah hati seseorang bisa berubah-ubah?

Hari itu pun datang. Aku langsung meluncur ke cafe tempat kita biasanya bertemu dari kantorku. 

Aku sudah sampai di cafe. Bayu ternyata belum datang.

Alya, aku terjebak macet. Ada kecelakaan.
Kamu pesan makanan saja duluan,
sambil menungguku. Maaf Alya, membuatmu
lama menunggu

Begitu ujarnya melalu pesan yang masuk melalu handphoneku.

Bayu datang ketika aku baru menghabiskan makananku setengahnya.

“Hai Al, maaf ya lama”
"Gapapa kok mas. Kamu kejebak macet dimana?"
"Ituloh Al yang di dekat Rumah Sakit Medistra"
"Ohhhhh"
"Kamu makannya lahap banget sih, Al. Pantes gendutan"
"Kamu lupa? Makanan di sini kan ga ada yang ga enak, Bay. Makanya kita sering ke sini kan dulu"
"Hehehehe iya juga. Yaudah aku pesan dulu yah"
"Bay, emang aku gendutan? Beneran?
"Iya hahahaha"
"Ah yasudah gapapa, tanda bahagia"
"Jadi kamu di sini bahagia yah? Dibahagian siapa?"
"Ih apaan sih pertanyaan kamu kok menyudutkan gitu? Udah deh makan dulu, nanti aja ngomonginnya"
"Eh kok serius banget sih. Aku bercanda loh. Eh ini ada oleh-oleh untuk kamu"

Selama Bayu makan, aku memutuskan untuk diam. Sambil mencari kata-kata yang pas untuk memulai pembicaraan ini. Karena bagaimanapun juga, aku yang meminta pertemuan ini.

"Eh Bay, kamu ga mau kasih tau nih seseorang mana yang membuat kamu nyaman? Hahaha. Dia orang Indonesia bukan, Bay? Atau kamu dapet orang Turki? Wah tapi kayanya ga mungkin deh, orang Turki mau sama kamu hahahaha"
"Aku minta maaf ya, Al"
"Hahaha slow Bay. Perasaan orang bisa berubah-ubah kan? Apalagi juga hubungan kita ga terikat gini. Ya kan?"
"Aku ga maksud nyakitin kamu, Al..."
"Aku ga tersakiti kok, Bay hehehehe"
"Tapi aku merusak kepercayaan yang udah kamu kasih"
"Aku masih percaya kok Bay sama kamu"
"Kamu ga nyangka ya kalau aku kaya begini?
"Iya, abis kamu ga ada tanda-tanda cari cewek lain hehehe. Tapi aku ngerti kok, semua berhak dapet yang terbaik kan? Mungkin emang aku bukan yang terbaik buat kamu"
"Kamu baik, Al. Sangat baik."
"Ga usah sok memuji dehhh hehehe"
"Beneran loh. Eh, aku penasaran, jadi siapa yang buat kamu bahagia di sini selama aku ga ada?"
"Pemilihan kata-kata kamu sarkatis banget yah.Percaya atau engga, ga ada orang selain kamu kok Bay. Kamu duluan yang ngedapetin. Aku belum, mungkin nanti"
"Aku percaya. Kamu baik, Al. Pasti banyak yang suka sama kamu. Pasti kamu cepet cari yang baru”
"Suka doang tapi kalau ga serius sama aja, Bay"
"Maaf ya Al, aku bukan ga serius sama kamu"
"Iya, Bayu. Aku cuma mau kamu ngomong depan aku aja kok. Bukan yang ga gentle kaya kemarin"
"Hehehe iya Al, maaf."

Sempat suasana hening terjadi di antara kami.

"Al, jangan keras kepala lagi ya nanti" 
"Iya, semoga nanti ada laki-laki yang bisa melunakan aku ya"
"Jangan lupa ya qur'annya sering-sering dibaca"
"Iya, Alya. Kamu juga... Doain ya tesis aku cepetan selesai"
"Aamin..."
"Maaf ya, Aku sering buat kamu kesal, sering buat kamu kecewa"
"Dulu aku ga bisa kesal sama kamu kan Bay hehehe. Bay, jaga perempuan kamu ya... Kamu jangan terlalu baik lagi dong sekarang ke semua cewek. Kebaikan kamu kan jadi ajang tebar pesona kamu hahaha"
"Hahahaha, iya Al. Al, terima kasih ya buat semuanya. Aku banyak belajar dari kamu. Semoga kamu secepatnya dapat yang lebih baik dari aku"
"Aamiin. Sama-sama, Bayu"
"Aku ga enak sama kamu sebenarnya, Al. Aku malu"
"Halo Bayu, kamu kok galau banget sih. Aku dalam kondisi yang baik-baik saja. Aku sudah berpikir jernih, mungkin rencana Allah memang bukan untuk kita bersama"
"Allah has best plan for us ya Al"

Aku memutuskan untuk beranjak pulang dari cafe lebih dulu. Dulu, kami pulang selalu bersama-sama, sekarang tidak bersama lagi. Semua sudah berlalu. Kita sudah sama-sama dewasa. Mengikhlaskan semuanya lebih baik. Walaupun tidak mudah, namun memang mengikhlaskan jalan satu-satunya.

Lagu yang berputar di radio dalam mobil saya kali ini adalah lagu dari Cakra Khan yang menjadi soundtrack di film Rudy Habibie-mencari cinta sejati....

Hembusan angin meniup wajah alam
Mataku tak berkedip menatap langit
Terlalu luas tak bertepi pandang
Bisakah aku menyentuh awan

Berwaktu-waktu aku mengasuh rasa
Mendengarkan jiwaku berkata-kata
Tak mungkin aku abaikan kata hati
Ku harus jujur pada hatiku

Kau dan aku tak bisa bersama
Bagai syair lagu tak berirama
Selamat tinggal kenangan denganku
Senyumku melepaskan kau pergi

Engkau bukanlah sebuah kesalahan
Tak pernah aku menyesal mengenalmu
Tapi biarkanlah aku terbang bebas
Mencari cinta sejati

Berwaktu-waktu aku mengasuh rasa
Mendengarkan jiwaku berkata-kata
Tak mungkin aku abaikan kata hati
Ku harus jujur pada hatiku

Kau dan aku tak bisa bersama
Bagai syair lagu tak berirama
Selamat tinggal kenangan denganku
Senyumku melepaskan kau pergi

Kau dan aku tak bisa bersama
Bagai syair lagu tak berirama
Selamat tinggal kenangan denganku
Senyumku melepaskan kau pergi

Kau dan aku tak bisa bersama
Bagai syair lagu tak berirama
Selamat tinggal kenangan denganku
Senyumku melepaskan kau pergi

Senyumku melepas kau pergi, Bay. Hahahaha. Tertawa aku dalam hati. Tuhan memang banyak mempertemukan kita dengan banyak orang untuk belajar dan mengajarkan, bukan? Dari kamu, aku belajar mengikhlaskan.






Ruhma Hafia,
Jakarta.

Senin, 13 Juni 2016

perjuangan, diperjuangkan dan memperjuangkan

Salam!!!!
hai gaisss, Ruhma Hafia kembaliiii. hehehe. btw, apa kabarnya di Ramadhan ke-8 nya? masih kuat lah ya imannya. walaupun kadang liat adik lu makan es krim di depan lu atau bisikan-bisikan teman gaib yang ngajakin bukber pas siang bolong. wkwkwk.

btw, sering kan ya denger entah dari temen cewe lo bilang
"yaiyalah kita kan butuh diperjuangin"
atau temen cowo lo yang bilang
"anjay susah ya cewe tuh, maunya diperjuangin terus, nuntut kita memperjuangkan dia mulu"
well. entah kenapa gue sering banget denger kaya gini, dan belum lama gue lg ngobrol sama temen gue, dia bilang "ya kan cewe senang diperjuangin kan fi?" sebenernya gue agak bingung sih mau jawab iya atau engga (karena emang sebagai cewe ada rasa ingin diperjuangkan hehehe). terus baru banget tadi sore gue mendengarkan curhat seorang lelaki galau, sebut saja dia segaf eh maksudnya sebut saja dia Ipul. dia bilang katanya "susah ya perjuangin cewe tu" terus gue jawab "emang perjuangin buat apa?", dan dia jawab lagi "buat ngedapetin dia lahhh" dan lain sebagainyaaa pokoknya gue chatan ttg itu. terus sampe akhirnya, gue mendapatkan hidayah.....

entah, kalian bakal setuju atau engga dengan pendapat gue tentang hal ini. hehehe

gini, klo menurut gue pribadi perjuangan itu bukan untuk mendapatkannya. perjuangan itu adalah tujuannya untuk memperbaiki diri, bukan bertujuan untuk mendapatkan si dia.

gue justru lebih setuju dengan kata-kata "sama-sama berjuang". karena hakikat sebenarnya perjuangan itu untuk dirinya sendiri berubah menjadi sama-sama lebih baik.

bukannya jodoh itu berbanding lurus? lelaki yang baik utk perempuan yang baik, begitu pula sebaliknya. jadi, berjuang aja buat diri kita makin keren, biar nanti Allah yang memberikan yang terbaik dari usaha terbaik kita.

jadi, Aa ku yang masih belum aku tahu. yuk kita sama-sama berjuang ya A!!!!  #eeeee #modus #saaelofi

dah yak, sekian tulisan gue yang sangat abstrak ini. huehehe

Wassalam,
Jatinangor.
Ruhma Hafia.

Minggu, 29 Mei 2016

Hafia Mengguggat Teori Bahagia??

Salam. wihiiii kembali lagi dengan gue. Ruhma Hafia. Kangen gak sama gue? wkwkwk.
Btw, tulisan dan judul gue kan emang ga pernah nyambung huehehe. Judul gue dibuat biar ada yang mampir aja sih. kan seru tuh wkwkwk.  Karena gue selalu bahagia (cieee), gue mau berbagi sedikit kebahagiaan gue dengan tulisan ini. hiahaha.


Menjadi bahagia mungkin emang jadi tujuan semua manusia. Btw, ini adalah riset dari Cambridge University tentang negara manakah yang paling bahagia di muka bumi. Ada enam faktor yang digunakan sebagai tolok ukur penilaian, yaitu pendapatan per kapita, dukungan sosial, hidup yang sehat, kebebasan sosial, kedermawanan, dan level korupsi.

YAP. Uang adalah satu yang menjadi tolak ukur penilaiannya.

Seperti yang dikatakan oleh Bapak Aristoteles bahwa orang yang bahagia menurut Aristoteles (dalam Rusydi, 2007) adalah orang yang mempunyai good birth, good health, good look, good luck, good reputation, good friends, good money and goodness.

Tapi kenyataannya, banyak orang yang sudah punya uang banyak, tidurnya tidak nyenyak. Atau banyak kasus yang ditemukan orang-orang kaya mati bunuh diri karena depresi. Kenyataannya pula, banyak  rumah-rumah mewah yang menampakkan kemapanan, tapi di dalamnya ada kedengkian dan dendam. 

Manusia memiliki  sifat tidak pernah puas, maka dari itu ketika seseorang telah merasakan kebahagiaan akan suatu hal, maka dia akan terus mencari kebahagiaan yang lebih membahagiakannya lagi dan akan terus begitu. Bukankah kebahagian itu semakin dicari semakin kabur, ia akan semakin samar?

Banyak lagi teori-teori tentang kebahagiaan yang jika semakin dicari malah membuat jiwa semakin gila. Kalau boleh gue akan menggugat teori dari Bapak Aristoteles (ceilehhh songong betul gue wkwkwk) di atas dengan teori dari Bapak yang satu ini. Beliau pendiri ilmu historiografi, sosiologi dan ekonomi. Beliau menjawab makna bahagia, 
“Bahagia adalah jika engkau benar-benar ridha pada putusan Allah” -Ibnu Khaldun

 As simple as that. Yes. Itulah teori simple yang nyata dari pengertian bahagia seorang muslim. 

Bukankah Allah berfirman pula:

“وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ”
Artinya: “Ingatlah tatkala Rabb kalian menetapkan: jika kalian bersyukur niscaya akan Ku tambah (nikmatku) pada kalian, dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat pedih” (QS. Ibrahim: 7)

Terakhir, gue berpesan buat diri gue khususnya. Bersyukurlah dan berbahagialah, kawannnn. Enjoy ur life, guys!!!


Selasa, 24 Mei 2016

Belajar memaafkan


Salam!!!! WOHOOOOO!!! siapa kangen gue? HIAHAHAHA.
Maaf ini gue terlalu senang aja bisa ngepost lagi. wihiii
Btw, gimana kabar hati? upsss... maaf salah tanya. apaansih kentang yak gue. mungkin ini efek gue suka kentang. NJAY makin kentang. 

Yaudahlah gue mau cerita aja. Kemarin, tiba-tiba gue iseng buka hangouts, terus ada inbox ternyata. dan berisi....
“Maafin semua yang sudah aku lakuin ke kamu dulu.”

Lets be honest, we’ve all been hurt by another person at some time or another. Sometimes we were treated badly and our trust was broken while our hearts was hurt. 

Gue agak speechless gitu sih, diam, bengong, dan pehatiin lg kata-kata itu. It bounced me back to the time when I carried a lot of anger and grudges toward him in my life and the time i wanted to hurt him back two years ago. But then suddenly I realize jauh sebelum dia ngirim itu ke gue sebenernya gue udah lupa dan memaafkan orang ini sih. Gue juga banyak belajar untuk menerima. Bahwa segala sesuatu terkadang tidak seperti apa yang kita inginkan, seringkali ga sesuai sama ekspektasi kita. Tapi kadang dari ketidaksesuaian itu sih yang bikin kita inget banget. Entah karena bermanfaaat banget, atau terkenang banget, atau yaaa gitulah pokoknya *apasih fiii*.

Hari ini, gue belajar tentang memaafkan segala sesuatu dari masa lalu yang pernah merobek sesuatu dalam hati gue *eaaaa* Sumpah serapah, kesel ampe ke ubun-ubun yaudahhh emang harusnya saat itu aja, dan menghilang (read: emosi saat itu aja, gausah ada dendam di antara kita) kiwww. The key is we all need to learn to let go. We all need to be able to forgive, so we can move on from anger and be happy in our life. So, enjoy aja lahh every single moment yang ada di hidup kita.

Tanpa pikir panjang gue langsung bales.
"santai aja, udah lama beralalu :)"

sumber: tumblr.com


Wassalam,
Ruhma Hafia

Senin, 11 April 2016

Filosofi Sebuah Kereta dan Stasiun (Cerpen)

Dingin. Begitulah yang aku rasakan pukul 04:00 di Stasiun Bandung. Duduk di kursi tunggu dengan mata masih terasa berat. Hanya ditemani ransel buluk abu-abu di punggung yang setia menemani kemanapun aku pergi. Ternyata jaket biru dongker ini tak sia-sia aku terima dari laki-laki itu 3 tahun lalu. Namun dengan jaket tebal ini tak bisa juga menahan dinginnya shubuh. Walaupun sudah memakai jilbab tebal ditambah dengan kupluk jaket ini. Tetap terasa dingin.
Aku menunggu KA Malabar yang akan datang pukul 4.38 nanti. Sebentar lagi adzan Shubuh, aku  segera ke Musholla yang tersedia di stasiun, sambil menunggu kereta yang aku tumpangi datang. Setelah sholat shubuh, sebentar ku buka smartphoneku untuk sekedar melihat linimasa media sosial. Membuatku senyum-senyum sendiri saat pertama yang aku lihat di linimasa media sosialku adalah laki-laki itu. Ya. Laki-laki yang telah memberiku jaket biru dongkernya untukku 3 tahun lalu.     

Ting tong ting tong...
“Kereta Malabar tujuan Malang, akan segera tiba, kepada para penumpang yang menuju stasiun Malang,  dimohon segera mempersiapkan diri.”

Terdengar suara pengumuman mulai memanggil para calon penumpangnya. Aku cepat-cepat memakai sepatu sneakers abu-abu dan setengah berlari ke arah peron kereta. Tak terlalu penuh saat itu, sehingga aku bisa memasuki kereta dengan lenggang. Aku memasuki kereta, lalu mencari tempat duduk sesuai dengan nomor yang terdapat pada tiket yang aku punya.
Senang, bisa duduk di pinggir dekat jendela. Entah mengapa dalam suatu perjalanan, hal yang aku nikmati adalah duduk sambil melihat ke luar jendela. Bisa sekedar untuk melihat pemandangan di luar, atau bisa juga untuk yaaa sekedar untuk mendramatisir keadaan bahwa aku sedang dalam perjalanan hehehe.
Namun sepertinya perjalanan ke Malang kali ini akan kuhabiskan untuk mengingat memori masa lalu dengan laki-laki itu. “Hahahaha Saras, kamu masih tak bisa berpaling dari masa lalu kah?” bisik hatiku sendiri saat itu.
“Ras, ga berasa yah tahun depan kita udah jadi mahasiswa”
“iya, aku senang deh, Nang. Waaa aku mau buru-buru jadi  mahasiswa keperawatan nih, Nang”
“Gimana ya Ras nanti pas kita kuliah? Kita kan bakalan di universitas yang sama, Ras. Di Universitas Brawijaya. Aku di teknik elektro, kamu di keperawatan”
“Nang, kok kamu pede banget yah? Udah mengandai-andai aja, padahal ujian aja belum hahaha. Aku takut ga lolos Nang...”
“Aihhh kamu, makanya mumpung masih ada waktu buat belajar kita maksimalin aja Ras siapa tau pengandaian kita terwujud, Ras. Aku semangat belajar nih biar bisa satu universitas sama kamu hahahaha”
Ah, Lanang, sosok laki-laki itu yang pernah mengisi warna-warni hidupku selama SMA. Cerdas, aktif, dan terlihat selalu menawan dalam penglihatanku tentunya. Badannya tinggi tidak terlalu gemuk, rambutnya yang sedikit kribo, kulitnya hitam manis, ditambah dengan lesung pipinya menjadi tambah manis. Beruntungnya aku pernah bisa menjadi bagian dari kisah hidup dia sekitar 2 tahun.
Kedekatan kami memang karena dilatarbelakangi dengan kesukaan yang sama terhadap kegiatan sosial. Tak jarang dahulu kami terlibat menjadi volunteer dalam kegiatan sosial yang sama. Sekedar bakti sosial, atau menjadi panitia dalam kegiatan konser amal, dan masih banyak lagi lainnya. Tentu, keberangkatanku kali ini membawa misi sama. Untuk kegiatan sosial yang akan dilaksanakan di Malang.
Ya. Tempat Lanang saat ini berkuliah. Pada akhirnya kami harus berpisah, karena kenyataannya kita tidak bisa di universitas yang sama. Aku yang saat ini di Bandung dengan keperawatanku, dan Lanang di Malang dengan Teknik Elektronya. Lanang tepat dengan tujuannya, sedangkan aku terpental ke Bandung. Bukan hanya kita yang berpisah dengan jarak. Tapi setelah 6 bulan menghadapi jarak tersebut, kami tak bisa melaluinya. Memilih untuk sama-sama menjalankannya sendirian, dan tak bersama lagi.
Hmmm.... Sekarang apa kabarmu Lanang? Masih suka dalam kegiatan sosialkah? Atau masih suka bermain game online jika penat? Masih suka mengoleksi gundam? Masih sering nonton film horor? Masih senang dengan anak-anak? Masih suka menjadi MC? Masih suka dengan bakso dengan jenis apapun? Atau masih suka dengan kebiasaanmu menggerak-gerakan kakimu jika stress datang? Hahahaha masih ingat sekali aku tentangmu.
Berarti sudah 2 tahun aku tidak tahu apa-apa lagi tentang kamu. Sejak kita memutuskan untuk tidak bersama lagi. Aku tak pernah lagi menghubungimu, hmm… mungkin maksudnya aku yang tak pernah mencoba menghubungimu lagi. Agar aku bisa benar-benar melupakanmu....
Agar aku bisa melupakanmu? Ahhh di sebuah kalimat tersebut tersirat sebuah makna bahwa aku sedang berusaha melupakanmu. Tapi tetap saja aku tak bisa. Selalu tiba-tiba mengingatmu, Lanang. Aku selalu mengingat sosokmu yang selalu memberiku semangat dalam hal apapun, dan di kondisi apapun. Sekarang, aku tak lagi mendapat semangat itu. Ya. Sejak 2 tahun lalu itu.
Ah ya, banyak laki-laki yang telah aku temui di Bandung sini, Lanang. Tapi mengapa sosokmu selalu menjadi bandingan? Aku tidak merasa senyaman denganmu, Lanang. Mereka terlalu banyak mau. Tak sepertimu yang bisa menerimaku apa adanya.
Matahari dalam kereta pukul 10.25, membangunkanku. Bunyi perutku mulai terdengar, pertanda bahwa aku sudah lapar. Aku memesan nasi goreng, dan segelas kopi ke pelayan kereta. Ku tengok ke luar, ah perjalanan masih sangat panjang.
Lanang...
Sesungguhnya di dalam kereta ini aku masih berharap bahwa nanti kita bisa bertemu. Namun aku egois. Aku tak mau mengabarkanmu, tapi aku mau kamu tau aku sedang berada di kotamu. Kita dekat, Lanang.
Lanang....
Mungkinkah Tuhan akan mempertemukan kita lagi kelak? Sedang aku selalu menghindarimu, menghindar dari pertemuan kita 1 tahun lalu saat reuni angkatan. Bahkan aku selalu menghindar dari pesan-pesan yang masuk ke media sosial darimu. Entah apa alasanku, aku terlalu takut mengingatmu Lanang...
Biar perjalanan kali ini aku banyak menghabiskan waktu untuk mengingatmu. Anggap ini permintaan maafku karena selalu menghindarimu. Ya. Aku memang pengecut. Bukan, kamu tidak pernah ada salah denganku. Kita berpisah dengan cara baik bukan? Jadi kupastikan tak ada yang salah dari kita. Namun, aku hanya terlalu takut jika bertemu denganmu memori manis tentang kita bermain lagi di kepalaku.
Pukul 18.14, sampai juga aku di Stasiun Malang. Hari ini tak dapat aku saksikan fajar dan senjanya Malang. Matahari sudah terbenam ketika aku sampai dan menginjakkan kaki di Stasiun ini. Aku memutuskan untuk mencari terlebih dahulu musholla untuk menunaikan sholat maghrib. Sekedar untuk membasuh muka untuk melanjutkan langsung perjalanan ke desa.
Aku masih menunggu seorang kawan yang akan menjemputku di Stasiun Malang. Hilir mudik penumpang kereta, juga lalu lalang kereta membuatku memberikan keputusan bahwa selesailah aku mengenangmu, Lanang. Biar kesempatan lain yang akan memutar memori manis tentang kita lagi nantinya.
Setelah aku bertemu dengan kawanku, perjalananku terus dilanjutkan untuk bertemu dengan volunteer lainnya di tempat penginapan yang terletak di dekat desa yang nantinya akan menjadi tempat untuk kami mengeksekusi proyek yang kami akan laksanakan. Perjalananku kali ini sudah tak sendiri, ada Mas Anto yang kali ini di hadapanku dengan menjelaskan tentang proyek kita selama di desa nanti.
Lanang, aku masih berharap bahwa kamu yang di hadapanku menjelaskanku tentang kegiatan kita selama di desa nanti. Ah... tapi itu tidak mungkin. “Saras, lupakan!” tekadku dalam hati.
Aku memutuskan untuk meletakkan barang bawaanku terlebih dahulu di kamar yang telah disediakan. Serta mandi dan berganti pakaian. Kini, aku sudah benar-benar melupakanmu, Lanang. Aku harus fokus terhadap proyekku 2 minggu ke depan di desa ini. Aku sudah tekadkan dalam hatiku bahwa aku harus total dalam menjalani proyekku selama di sini.
2 minggu berlalu, melelahkan juga menyenangkan. Bertemu dengan warga di desa ini, memberikan pelatihan-pelatihan, juga berbincang-bincang, sedikit membantu petani, juga kegiatan mengajar rutin pada pagi hari. Dari mulai anak-anak hingga para tetua desa ini sangat ramah. Lelah sudah tak lagi terasa. Terasa berat untuk meninggalkan desa ini sore nanti. Karena desa ini memberiku banyak pengalaman dan juga pelajaran. Perlu kalian ketahui, para volunteer lain juga melakukan hal yang sama denganku. Namun, mereka terbagi ke beberapa desa di Malang. Malam nanti, akan ada acara puncak untuk pertemuan volunteer se Pulau Jawa di kota Malang. Oleh karena itu, sore hari ini aku harus pergi ke tempat malam puncak acara tersebut.
Tepat pukul 19.00 aku beranjak ke aula tempat acara berlangsung bersama Arin, teman sekamar yang juga partner kerjaku selama 2 minggu di desa. Aku mencari-cari Mas Anto, untuk meminta tugasku yang dihandlenya terlebih dahulu. “Saras, kamu nanti yang menjadi MC saja ya. Kebetulan Nanda terlambat dari desanya karena ban mobil yang menjemput mereka untuk keluar dari desa mogok. Oh iya, kamu nanti berpasangan kok jadi MCnya. Sini aku kenalin ke partner MC mu” kata mas Anto.

Aku membuntutinya dari belakang, Mas Anto mengarah pada seorang laki-laki berbadan tinggi, dengan badan yang proporsional dengan tingginya, rambutnya agak kriting, namun dengan potongan pendek. Aku masih melihatnya dari belakang, ia masih sibuk dengan memasang dasinya untuk acara resmi ini. “Aji, sini kenalan sama Saras. Partner MC kamu” , laki-laki itu segera menoleh.

“Saras?”  kata laki-laki itu.
“Lanang?” kataku dengan rasa terkejut luar biasa.
Ya. Namanya adalah Lanang Aji Rahman. Entah ini sebuah takdir atau memang kebetulan. Tapi aku yakin, Tuhan  memiliki rencana di setiap kebetulannya. Malam ini, aku bertemu lagi dengannya, Lanang. Sosok yang 2 minggu lalu baru aku impikan untuk bertemu dengannya kini di hadapanku menjadi pasangan MC-ku. Sedikit canggung setelah 2 tahun ini tak bertemu dengannya. Ups, bukan tak bertemu, tapi aku menghindarinya.
Tak banyak perbincangan kami malam itu setelah MC, sudah sama-sama lelah dengan kegiatan kami kemarin. “Kamu pulang besok tah, Ras?”  katanya sambil melepas dasinya. “iya nang, aku udah ada tiket untuk pulang besok pagi jam 7.21”  jawabku. “Mau ku antar?”  tanyanya. Anggukan kepalaku menjadi jawabanku kala itu. Aku mungkin terlihat bodoh, langsung menerima tawarannya begitu saja. Tapi, kau harus tau Lanang, aku benar-benar rindu.
Pagi itu, kita harus berpisah. Pertemuan yang hanya kilat itu memberikan jawaban-jawaban yang menjadi jawaban dari perjalananku selama ke Malang. Entah ini nyata atau hanya sekedar mimpi.
Pukul 07.21, berjalannya kereta menuju Bandung.
Ting... (pukul 07.23)
From: Lanang
Jangan kapok datang ke Malang, Saras :p Semoga dengan pertemuan kembali kita semalam kamu tak lagi menghindari pesan-pesanku. Hati-hati, Saras. Semoga kamu sampai dengan lancar dan selamat sampai ke Bandung.
 Ting.... (pukul 07.28)
            From: Lanang
Saras, aku masih berdiri di stasiun. Aku mendapat filosofi dari sebuah kereta dan stasiun. Setiap kereta menempuh perjalanan jauh, singgah di banyak stasiun, sekedar menaik turunkan penumpangnya, lalu melanjutkan perjalanannya lagi sampai ke tempat tujuan akhir, bila sudah sampai di tujuan akhir, maka kereta akan kembali ke stasiun awal dengan membawa penumpang yang berbeda lagi. 
Dan kereta itu adalah aku, Ras. Setelah aku melakukan “perjalanan panjang”, aku betualang, berhenti di tiap perempuan yang aku anggap nyaman. Bila harus berjalan lagi, aku berhenti lagi di perempuan lainnya. Dan aku sadar, bahwa stasiun awal adalah tempatku kembali yang sebenarnya, bukan stasiun-             stasiun untuk singgah sementara. Aku tahu, stasiun awal itu adalah kamu, tempat paling nyaman yang pernah aku dapati. Ternyata aku butuh kembali. Kamu adalah tempat aku kembali, Ras...
Jadi masihkah kamu mau menganggapku sebagai kereta terakhirmu? Karena aku tahu,  kamulah stasiun awalku, Ras.
Lanang, apa ini yang dinamakan gayung bersambut? Apa aku tak bermimpi? Terjawab sudah segala pertanyaanku di atas kereta di awal keberangkatanku. Jawaban darimu tentang filosofi sebuah kereta dan stasiun. Sebentar Lanang, aku sedang mengetik pesan untukmu. 


Ruhma Hafia, 
Jatinangor