Hidup berakhir saat kamu berhenti bermimpi. Harapan Hilang saat kamu berhenti percaya. Allahu ma'ii, Allah nazhirii, Allah syahidii
Sabtu, 11 Februari 2017
Anti Golput
"Jakarta adalah ibukota, Jakarta adalah representasi dari Indonesia. Jika ingin melihat Indonesia seperti apa, maka lihatlah Jakarta"-lupa kata siapa
Btw, entah kenapa saya sangat setuju sama kata2 John Legend di atas. Like it or not, kehidupan kita emang ga akan pernah lepas dari politik. Yakan yakannn?
Ga sedikit orang yang ngomong "ah males ah nyoblos, bingung mao milih siapa", dan kalo itu temen saya, pasti saya langsung omel2in. Biarinnn. Pemberian dana untuk kampanye kepada masing2 paslon itu udah ngeluarin dana banyak. Belom buat pengawasan pemilu, itu baru panwas. Belum lagi tim panitia pemilu. Belum lagi dana untuk TPS, dan masih banyak perintilan lainnya. Kertas suara harganya bukan Rp 100,- atau Rp 200,- per lembar lohhh. Jadi bisa dibayangin dong betapa banyak uang yang udah dialokasiin cuma biar kita bisa mendapatkan hak suara kita, tp abis itu disia-siain gitu aja, sayang banget mennn...
Golput emang pilihan, tapi bukan solusi. Kalau nantinya kalian memilih untuk golput, dari sekarang mending siap2 bungkam mulut. Jangan pernah protes sama kebijakan-kebijakan yang nantinya bakalan mempengaruhi kehidupan anda.
Gamau dong terulang tragedi Brexit cuma karena masyarakat UK memilih untuk golput, atau mungkin kejadian Trump menang cuma gara2 pendukung Hillary yang males untuk nyoblos.
Saya memang bukan siapa2, tapi tidak ada salahnya bukan mengingatkan dan menghimbau buat teman-teman untuk menggunakan hak pilihnya untuk daerahnya yang melaksanakan Pilkada (ga cuma DKI Jakarta), yuk gunain hak pilihnya di hari Rabu, 15 Februari 2017.
Terakhir, mau pilihan kalian nomer 1, 2 atau 3, pleaseee.. be smart, be logic, be wise, and be true!!
#KawalPilkada #antigolput
Ruhma Hafia,
Jakarta
Senin, 07 November 2016
Kata-Kata Menyenangkan dari Orang Menyenangkan
“Halo Kanaya, tunggu ya sebentar. Ban motor saya tiba-tiba saja bocor”
“Iya, ka Alfan. Aku juga masih mengerjakan sesuatu. Jadi tidak apa-apa menunggu"
“Maaf ya membuat kamu menunggu. Padahal kamu tidak suka"
“Nggak apa-apa. Ayo selesaikan, aku tunggu ya ka"
Ya. Aku memang sangat tidak suka dengan kegiatan menunggu. Menurutku, banyak hal yang bisa aku kerjakan selain menunggu. Menunggu sama saja membuang waktu bukan? Tapi kali ini berbeda. Aku yang tidak suka menunggu, tiba-tiba saja menjadi tidak masalah menunggu ka Alfan.
Ah ya. Aku sedang berada di perpustakaan kampusku. Niatku di sini sebenarnya hanya ingin mencari referensi untuk membuat essayku. Tapi tiba-tiba ka Alfan menelpon dan memintaku untuk menemaninya membelikan hadiah untuk keponakannya yang akan merayakan ulang tahunnya. Aku yang diiming-imingi dengan bantuan membuatkan paper langsung menyetujuinya. Lagipula ka Alfan juga sudah berkata bahwa ia memiliki buku yang sedang ku cari.
Sebenarnya aku bukan sekali atau dua kali saja dibantu ka Alfan membuat paper. Bahkan bukan hanya essay, tapi tugas lainnya pun ia sangat sering membantuku. Entah memberikan saran kekurangan tulisanku atau ia sering juga memberikan judul atau ide menarik untuk tugas-tugasku. Walaupun kita berbeda jurusan.
Aku jadi teringat bagaimana pertama kali aku berkenalan dengan ka Alfan di sebuah kepanitiaan. Dia mengaku kalau kita masih satu angkatan jadi tidak perlu memanggilnya dengan kakak. Setelah terbiasa dengan hanya memanggilnya nama, aku tidak sengaja melihat Nomor Pokok Mahasiswa yang terdapat di kartu tanda pengenal panitia bahwa dia ternyata 2 tahun di atasku. Dari situ aku sangat malu dan merasa tidak sopan dengan ka Alfan. Ka Alfan bilang kalau muka dia masih cocok dikatakan seangkatan denganku yang kala itu memang junior paling muda. Ah ka Alfan memang sok muda. Oh ya, wajar saja aku baru mengetahuinya, karena kita meman berbeda jurusan. Bahkan berbeda fakultas.
"Hai Kanaya. Sedang mikirin apa sih? Sampe saya datang aja kamu ga tau"
"Eh ka Alfan. Akhirnya datang juga"
"Kamu belum jawab pertanyaan saya, Kanaya"
"Ah engga, aku cuma sedanh memikirkan ide untuk paper ku saja"
"Masa sih? Kayanya pikiran kamu bukan itu deh"
"Ah ka Alfan mau tau banget sih"
"Atau jangan-jangan mikirin saya?" balas ka Alfan sambil cekikikan
"Ih engga. Ngapain banget mikirin kakak"
"Ih sensi ya kalau abis nunggu. Maaf deh"
"Ih minta maaf doang nih? Es krim green tea donggg"
"Udah cuma itu aja buat minta maaf sama kamu?"
"Engga. Kerjain juga paper aku"
"Ga mau wleee"
"Ih ka Alfan udah janji mau bantu aku"
"Hahaha iya Kanaya, saya akan bantu kamu. Udah yuk berangkat, keburu sore"
"Yeyyy terima kasih ka Alfan. Yuk yukk"
------------------------
“Duh, ka Alfan jalannya cepat banget sih ka.”
“Ya, harus dibiasakan begini"
“Kenapa harus gitu?”
"Katanya mau ke Jepang. Orang-orang di sana jalannya sangat cepat loh"
“Tapi, sekarang kan kita lagi gak di Jepang. Ka alfan ngebut banget jalannya, aku cape ngikutin ka Alfan"
“Oke, pelan-pelan deh… Hei Kanaya! Sekarang kamu malah mempercepat jalan kamu!”
“Memang harus dibiasakan begini.”
“Kenapa gitu?”
“Karena yang sampai ke toko itu lebih dulu berarti dia pemenangnya!!! Yang kalah teraktir eskrim green tea!”
“Kamu curang Kanaya!!!”
“Ini bukan curang ka Alfan. Ini namanya strategi"
Sudah lama memang aku tidak jalan dengan ka Alfan. Karena dia sudah jarang ke kampus dan sedang menyelesaikan skripsinya. Paling ka Alfan ke kampus hanya untuk menjemputku saja, itupun kalau aku lagi mau dijemput. Terkadang juga ka Alfan suka buat kejutan tiba-tiba menelpon sudah ada di perpustakaan, kantin, parkiran atau bahkan di depan kelas.
Ka Alfan memang masih suka ke kampus, dia sering jenuh berada di kosan dan butuh suasana baru untuk mencari inspirasi, biasanya di taman kampus atau laboraturium atau perpustakaan. Ah iya, ka Alfan juga seorang penulis. Jadi, kalau dia di taman biasanya mencari inspirasi untuk tulisannya. Jika dia di perpustakaan atau laboraturium berarti dia sedang menggarap skripsinya.
Kadang aku suka datang untuk mengganggunya kalau dia sedang di taman. Eitsss ini sebenarnya bukan karena aku jahil. Tapi ka Alfan sendiri bilang kalau dia suka digangguku. Aneh. Sering kali juga ketika aku di kampus ka Alfan tiba-tiba menelponku meminta untuk aku datang ke taman. Dia bilang mau memamerkan kalau dia sudah menyelesaikan tulisannya. Sering kali aku yang disuruh ka Alfan untuk membacanya, penikmat pertama tulisan ka Alfan harus aku katanya. Aku tau, ka Alfan bicara seperti itu cuma karena ingin membuatku senang saja. Tapi aku memang senang jika dinobatkan menjadi pembaca pertama karya ka Alfan ini hehehe.
------------------------
"Halo ka Alfan"
"Hai Kanaya"
"Iyaa ini Kanaya"
"Tanpa kamu menyebutkan namamu aku sudah tahu itu kamu, ada apa?"
"Ah iya ka Alfan benar, aku mengganggu?"
"Tidak akan merasa terganggu kalau kamu yang nelpon Kanaya"
"Oh my god, ka Alfan, kenapa anda selalu berkata seperti itu. Ah sudahlah. Aku mau berkata....ituu.... bisa kah kamuuu.... ah begini.., maksud aku..."
"Kamu kenapa Kanaya?"
"Oke ehm ehm.. begini ka Alfan, komunitas Pena yang aku ikuti ingin mengundangmu datang untuk menjadi pembicara. Tapi dana sebagai pembicara di komunitasku tidak seberapa jika dibandingkan dengan...."
"Aku akan menghadiri, kapan waktunya?"
"Sungguh? Seminggu lagi ka. Sejujurnya aku tidak enak meminta ka Alfan untuk jadi pembicara. Tapi aku dipaksa oleh teman-temanku karena mereka tahu aku dekat dengan ka Alfan. Takut aja disangka memanfaatkan"
"Selalu ada waktu untuk kamu Kanaya. Tidak perlu merasa seperti itu Kanaya. Aku dengan senang hati melakukannya untukmu"
"Terima kasih"
"Terima kasih saja?"
"Es krim green tea bagaimana?"
"Terlalu mudah jika aku menerima itu. Sering-sering telepon aku aja bagaimana? Moment langka loh kamu menelepon saya"
"Ah ka Alfan, sudah malam. Aku takut mengganggu. Selamat malam"
Ada senyuman laki-laki mengembang di ujung sana. Membayangkan seorang Kanaya kini tersipu malu.
------------------------
Aku memang selalu suka ngobrol dengan ka alfan. Dia teman bicara yang baik. Selalu merespon dengan baik apapun yang aku bicarakan. Entah pelajaranku, tentang buku, film, teater, organisasi, politik kampus, hutang negara, bahkan tentang pikiran anehku selalu direspon baik oleh ka Alfan.
"Halo ka Alfan, sudah siap-siap kah?" Dateng 30 menit sebelum acara ya ka. Nanti aku jemput yah. Aku LO kakak"
"Oh ya kamu LO saya? Dengan senang hati saya akan menjemput LO saya. Bukan LO yg menjemput saya. Boleh?"
"Ah ka Alfan, jangan begitu. Aku ga enak"
"Tidak tidak. Ini bukan antara pembicara dengan seorang LO nya. Tapi ini tentang laki-laki dan wanitanya"
"Oke, baiklah"
"Hanya itu jawabannya?"
"Aku bingung harus jawab apa"
"Kamu menggemaskan Kanaya, oke 1 jam lagi saya akan sampai di depan rumahmu. Cepat mandi dan berpakaian. Kamu harus cantik dan wangi bertemu dengan seorang pembicara special"
"Uhhh ka Alfan!!!"
"Oh iya, setelah acara aku harap kamu mau ikut denganku. Aku akan mengajakmu ke suatu tempat"
"Oke aku akan menurut kali ini. Sebagai balas budiku karena ka Alfan mau menjadi pembicara"
"Baik. Sampai jumpa, Kanaya"
Entahlah terkadang ka Alfan memang bertindak sesuka hati. Dia suka memaksa kehendaknya. Tapi untungnya tindakannya selalu aku suka. Hehehe.
Tapi sering kali juga aku memaksakan kehendaku. Semisal saat kita makan di suatu restaurant dan saat itu aku yang menang taruhan boleh memilihkan makanan untuk ka Alfan sepuasnya. Karena aku suka banget sama ice cappucino, aku pilihkan itu. Padahal ka Alfan lebih suka ice chocolate. Tapi aku berusaha untuk mendoktrinnya. Sedikit pemaksaan.
Sore, hujan turun sedikit. Hanya sekedar membasahi atap, jalan dan tanaman. Setelah acara tersebut selesai aku menunaikan kata-kataku yang di telepon tadi. Aku harus ikut ka Alfan ke suatu tempat. Entah kemana, aku sudah pasrah sebenarnya. Tapi sempat penasaran tapi percuma. Ka Alfan susah ditebak.
"Kamu pasti bertanya-tanya kan dalam hati kita mau kemana"
"Sebenarnya giitu sih ka"
"Kenapa ga ditanya?"
"Karena tak akan dijawab"
Ka alfan hanya cekikikan mendengar jawabanku. Lalu ia merogoh saku jas yang tadi dia pakai di acara tadi.
"Taraaa... Saya punya tiket pertunjukan Teater Bandung yang sedang tour ke kota-kota. Kamu kemarin kehabisan kan?
"Ka Alfan!! Aku harus membalasnya dengan apa untuk kejutan kali ini?"
"Cukup temani aku saja dan jawab pertanyaanku ketika aku sudah tak mengerti akan alurnya. Ini pertama kalimya aku menonton teater"
"Dengan senang hati"
Ka Alfan memang sering memberikan kejutan untukku. Bahkan sering sekali. Dari mulai hal kecil, hingga hal besar seperti saat ini. Sepanjang pertunjukan aku sangat kagum dengan grup teater ini, tapi diam-diam aku juga kagum dengan ka Alfan. Karena dia selalu memberiku hal tak terduga dan selalu membuatku bahagia.
Banyak kesempatan yang aku habiskan bersama kak Alfan. Aku selalu menikmatinya. Semua hal yang menyenangkan ketika bersama orang yang menyenangkan bukan? Ditambah lagi, orang tersebut selalu menyemangati ketika sudah tidak ada motivasi, mengingatkan kalau ada kesalahan dan selalu mengajarkan untuk selalu menjadi lebih baik.
Ketika lelaki merasa jemu, dia membutuhkan seseorang yang mendorongnya agar ia maju ke depan. Ketika perempuan merasa jemu, dia membutuhkan seseorang yang menopangnya dari belakang agar tidak terjatuh.
Aku melihat kata-kata itu di salah satu poster yang ditempel pihak penyelenggara. Benar juga kataku. Sepulang dari pertunjukan teater, ka Alfan mengatakan sesuatu. Kata-kata yang tidak akan aku lupa dan begitu menyenangkan.
"Kanaya... teater tadi mengajariku satu hal"
"Apa?"
"Saya tidak akan membiarkanmu jatuh seperti halnya raja tadi membiarkan ratunya terjatuh. Saya juga tidak akan semudah itu menjauhi kamu bagaimanapun kondisimu. I would never run away from you. I would never ever let you down. Begitu kan kata-kata Ratu tadi?"
"Iya....."
"Kanaya, mungkin saya tidak pernah mengatakannya. Saya bisa saja mengatakan ini. Namun, saya lebih suka dengan membuatmu merasa dicintai tanpa harus berkata saya cinta kamu." Aku hanya bisa terdiam dan membalasnya dengan senyuman.
Ruhma Hafia,
Jatinangor
Sabtu, 30 Juli 2016
Terima Kasih, Pak Anies Baswedan.
Sampai H+4 saya masih tidak bisa percaya kalau beliau dipurnatugaskan menjadi seorang menteri. Mungkin Pak Jokowi memiliki pertimbangan lain.
Sedikit cerita pertemuan pertama kali saya dengan Bapak Anies Baswedan adalah ketika saya bergabung di Parlemen Muda. Beliau adalah pelindung dari Parlemen Muda. Di situ beliau menjadi narasumber yang membuat saya jatuh cinta langsung terhadapnya. Setelah acara itu selesai, saya mulai mencari tahu banyak tentang beliau ternyata beliau luar biasa keren. Dari mulai program Indonesia Mengajar, Indonesia Menyala, Kelas Inspirasi hingga Turun Tangan saya bertambah jatuh cinta karena beliau sangat lekat dengan dunia pendidikan.
Saat beliau diangkat menjadi menteri, saya senang luar biasa. Walaupun saat itu, banyak isu miring tentang agamanya yang hingga sekarang belum bisa dibuktikan kebenarannya. Tapi saya sangat berharap dan percaya, beliau bisa memberi warna baru untuk pendidikan di Indonesia.
Benar saja, dalam waktu 20 bulan beliau menjalankan amanahnya. Banyak sekali perubahan yang telah beliau lakukan, diantaranya yaitu meninjau dan merevisi kurikulum 2013, nilai UN bukan penentu kelulusan, terbongkarnya kasus mafia buku, membentuk direktorat baru (direktorat keayahbundaan), hingga digantinya istilah MOS demi menekan tingkat kekerasan dan perploncoan di sekolah-sekolah.
Saya melihat Pak Anies juga bukan hanya sekedar seorang menteri. Tapi lebih dari itu. Beliau juga seorang psikolog yang diberi amanah menjadi seorang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Sehingga padu padan keduanya sangat pas. Terbukti dengan adanya direktorat keayahbundaan, karena ia berpikir bahwa orangtua adalah pendidik yang paling tak tersiapkan. Diwujudkan pula dengan program beliau gerakan mengantar anak pada hari pertama sekolah. Beliau membuktikan bahwa beliau bekerja dengan hati sehingga beliau tahu bagaimana mengelola kementerian dan SDM-nya.
Bapak sangat menginspirasi saya dalam hal pendidikan dan pengetahuan. Semoga saya bisa mengikuti langkahmu. Yap, saya bukan hanya sekedar meraih mimpi. Tapi saya harus berusaha melampauinya!
Terima kasih, Bapak Anies Baswedan 20 bulannya. Hingga kini, saya belum bisa move-on dari bapak. Semoga kita bisa bertemu kembali di Turun Tangan untuk kali ini. Semoga bapak menjadi pelindung atau penasihat di organisasi saya yang lain mungkin? Hmmmm
Doakan kami Pak, selaku putra-putri harapan bangsa agar bisa melanjutkan dan selalu bisa memberikan kontribusi terbaik untuk pendidikan di tanah air tercinta.
I have so much respect for you and will continue to support you, Mr. Anies Baswedan, the Minister of Education and Culture of Indonesia (27 Oktober 2014 - 27Juli 2016).
Jatinangor,
Ruhma Hafia
Selasa, 12 Juli 2016
Dari Kamu Aku Belajar Mengikhlaskan
Rutin setiap hari Sabtu di pagi hari aku selalu merapikan apartemenku yang luasnya tak seberapa. Entah untuk merapikan meja kerjaku, tumpukan buku di rak koleksiku atau hanya sekedar untuk membersihkan meja dari debu di depan tv.
Tiba-tiba smartphoneku yang berada di kamar sayup-sayup terdengar berbunyi panggilan masuk.
“Halo Al, lagi sibuk ga? Aku mau bicara"
"Engga kok, Bay. Ada apa?"
"Alya, maafin aku harus jujur. Mungkin ini akan pahit nantinya. Tapi aku harus benar-benar bicara sama kamu"
"Iya ada apa, Bayu?"
"Aku merasa hubungan kita terlalu flat. Kamu yang sibuk dengan pekerjaan kamu, sedangkan aku juga sibuk dengan tesis aku di sini. Aku gatau keuntungan kita bersama apa. Karena aku ga liat kepedulian kamu dengan aku. Makanya, beberapa kali aku nanya sama kamu tentang perasaan kamu ke aku. Sejujurnya aku sedang dekat dengan seseorang yang membuatku nyaman karena kepeduliannya dan waktunya lebih pas denganku. Ga kaya kamu. Kita sekarang berbeda banget al. Entah kamu merasa hal yang sama denganku atau tidak"
Aku mencoba mendengarnya dengan logikaku. Benar semua. Kataku dalam hati.
"Aku mengerti, apa yang kamu bicarain. Aku bisa bilang sebagian besar dengan jawaban 'ya'. Tapi aku ga liat gentle nya kamu saat ini. Karena kamu bicara ingin pisah hanya melalui telpon. Ini bukan main-main, Bay. Ayo kita bertemu dan tunjukkan bahwa kamu gentle. Temui aku setelah kamu sampai di Indonesia, lusa. Di tempat kita biasa, jam 7 mas. Kamu masih ingat?"
Klik. Ku putuskan langsung sambungan telepon tersebut.
Semudah itu? Hahaha. Aku tertawa dalam hatiku. Entah aku harus senang atau sedih. Tapi memang ada benarnya juga jika aku berpikir sesederhana itu. Aku memang sudah cukup lama memikirkan tentang hubunganku dengan Mas Bayu. Sekarang yang aku butuhkan memang hanya bersikap, berusaha untuk mengakui kesalahan dan mengevaluasi diri. Karena aku pikir kita telah sama-sama dewasa, bukan?
Kenapa kamu gak marah saat dia mengakui bahwa ada orang lain? Kenapa kamu ga marah saat dia berbicara hal sepenting itu melalui telepon? Batinku sebenarnya terus-menerus bertanya-tanya. Beda dengan logikaku saat ini. Ah iya, bukankah seseorang dapat berubah? Bukankah hati seseorang bisa berubah-ubah?
Hari itu pun datang. Aku langsung meluncur ke cafe tempat kita biasanya bertemu dari kantorku.
Aku sudah sampai di cafe. Bayu ternyata belum datang.
Alya, aku terjebak macet. Ada kecelakaan.
Kamu pesan makanan saja duluan,
sambil menungguku. Maaf Alya, membuatmu
lama menunggu
Begitu ujarnya melalu pesan yang masuk melalu handphoneku.
Bayu datang ketika aku baru menghabiskan makananku setengahnya.
“Hai Al, maaf ya lama”
"Gapapa kok mas. Kamu kejebak macet dimana?"
"Ituloh Al yang di dekat Rumah Sakit Medistra"
"Ohhhhh"
"Kamu makannya lahap banget sih, Al. Pantes gendutan"
"Kamu lupa? Makanan di sini kan ga ada yang ga enak, Bay. Makanya kita sering ke sini kan dulu"
"Hehehehe iya juga. Yaudah aku pesan dulu yah"
"Bay, emang aku gendutan? Beneran?
"Iya hahahaha"
"Ah yasudah gapapa, tanda bahagia"
"Jadi kamu di sini bahagia yah? Dibahagian siapa?"
"Ih apaan sih pertanyaan kamu kok menyudutkan gitu? Udah deh makan dulu, nanti aja ngomonginnya"
"Eh kok serius banget sih. Aku bercanda loh. Eh ini ada oleh-oleh untuk kamu"
Selama Bayu makan, aku memutuskan untuk diam. Sambil mencari kata-kata yang pas untuk memulai pembicaraan ini. Karena bagaimanapun juga, aku yang meminta pertemuan ini.
"Eh Bay, kamu ga mau kasih tau nih seseorang mana yang membuat kamu nyaman? Hahaha. Dia orang Indonesia bukan, Bay? Atau kamu dapet orang Turki? Wah tapi kayanya ga mungkin deh, orang Turki mau sama kamu hahahaha"
"Aku minta maaf ya, Al"
"Hahaha slow Bay. Perasaan orang bisa berubah-ubah kan? Apalagi juga hubungan kita ga terikat gini. Ya kan?"
"Aku ga maksud nyakitin kamu, Al..."
"Aku ga tersakiti kok, Bay hehehehe"
"Tapi aku merusak kepercayaan yang udah kamu kasih"
"Aku masih percaya kok Bay sama kamu"
"Kamu ga nyangka ya kalau aku kaya begini?
"Iya, abis kamu ga ada tanda-tanda cari cewek lain hehehe. Tapi aku ngerti kok, semua berhak dapet yang terbaik kan? Mungkin emang aku bukan yang terbaik buat kamu"
"Kamu baik, Al. Sangat baik."
"Ga usah sok memuji dehhh hehehe"
"Beneran loh. Eh, aku penasaran, jadi siapa yang buat kamu bahagia di sini selama aku ga ada?"
"Pemilihan kata-kata kamu sarkatis banget yah.Percaya atau engga, ga ada orang selain kamu kok Bay. Kamu duluan yang ngedapetin. Aku belum, mungkin nanti"
"Aku percaya. Kamu baik, Al. Pasti banyak yang suka sama kamu. Pasti kamu cepet cari yang baru”
"Suka doang tapi kalau ga serius sama aja, Bay"
"Maaf ya Al, aku bukan ga serius sama kamu"
"Iya, Bayu. Aku cuma mau kamu ngomong depan aku aja kok. Bukan yang ga gentle kaya kemarin"
"Hehehe iya Al, maaf."
Sempat suasana hening terjadi di antara kami.
"Al, jangan keras kepala lagi ya nanti"
"Iya, semoga nanti ada laki-laki yang bisa melunakan aku ya"
"Jangan lupa ya qur'annya sering-sering dibaca"
"Iya, Alya. Kamu juga... Doain ya tesis aku cepetan selesai"
"Aamin..."
"Maaf ya, Aku sering buat kamu kesal, sering buat kamu kecewa"
"Dulu aku ga bisa kesal sama kamu kan Bay hehehe. Bay, jaga perempuan kamu ya... Kamu jangan terlalu baik lagi dong sekarang ke semua cewek. Kebaikan kamu kan jadi ajang tebar pesona kamu hahaha"
"Hahahaha, iya Al. Al, terima kasih ya buat semuanya. Aku banyak belajar dari kamu. Semoga kamu secepatnya dapat yang lebih baik dari aku"
"Aamiin. Sama-sama, Bayu"
"Aku ga enak sama kamu sebenarnya, Al. Aku malu"
"Halo Bayu, kamu kok galau banget sih. Aku dalam kondisi yang baik-baik saja. Aku sudah berpikir jernih, mungkin rencana Allah memang bukan untuk kita bersama"
"Allah has best plan for us ya Al"
Aku memutuskan untuk beranjak pulang dari cafe lebih dulu. Dulu, kami pulang selalu bersama-sama, sekarang tidak bersama lagi. Semua sudah berlalu. Kita sudah sama-sama dewasa. Mengikhlaskan semuanya lebih baik. Walaupun tidak mudah, namun memang mengikhlaskan jalan satu-satunya.
Lagu yang berputar di radio dalam mobil saya kali ini adalah lagu dari Cakra Khan yang menjadi soundtrack di film Rudy Habibie-mencari cinta sejati....
Hembusan angin meniup wajah alam
Mataku tak berkedip menatap langit
Terlalu luas tak bertepi pandang
Bisakah aku menyentuh awan
Berwaktu-waktu aku mengasuh rasa
Mendengarkan jiwaku berkata-kata
Tak mungkin aku abaikan kata hati
Ku harus jujur pada hatiku
Kau dan aku tak bisa bersama
Bagai syair lagu tak berirama
Mataku tak berkedip menatap langit
Terlalu luas tak bertepi pandang
Bisakah aku menyentuh awan
Berwaktu-waktu aku mengasuh rasa
Mendengarkan jiwaku berkata-kata
Tak mungkin aku abaikan kata hati
Ku harus jujur pada hatiku
Kau dan aku tak bisa bersama
Bagai syair lagu tak berirama
Selamat tinggal kenangan denganku
Senyumku melepaskan kau pergi
Engkau bukanlah sebuah kesalahan
Tak pernah aku menyesal mengenalmu
Tapi biarkanlah aku terbang bebas
Mencari cinta sejati
Berwaktu-waktu aku mengasuh rasa
Mendengarkan jiwaku berkata-kata
Tak mungkin aku abaikan kata hati
Ku harus jujur pada hatiku
Kau dan aku tak bisa bersama
Bagai syair lagu tak berirama
Selamat tinggal kenangan denganku
Senyumku melepaskan kau pergi
Kau dan aku tak bisa bersama
Bagai syair lagu tak berirama
Selamat tinggal kenangan denganku
Senyumku melepaskan kau pergi
Kau dan aku tak bisa bersama
Bagai syair lagu tak berirama
Selamat tinggal kenangan denganku
Senyumku melepaskan kau pergi
Senyumku melepaskan kau pergi
Engkau bukanlah sebuah kesalahan
Tak pernah aku menyesal mengenalmu
Tapi biarkanlah aku terbang bebas
Mencari cinta sejati
Berwaktu-waktu aku mengasuh rasa
Mendengarkan jiwaku berkata-kata
Tak mungkin aku abaikan kata hati
Ku harus jujur pada hatiku
Kau dan aku tak bisa bersama
Bagai syair lagu tak berirama
Selamat tinggal kenangan denganku
Senyumku melepaskan kau pergi
Kau dan aku tak bisa bersama
Bagai syair lagu tak berirama
Selamat tinggal kenangan denganku
Senyumku melepaskan kau pergi
Kau dan aku tak bisa bersama
Bagai syair lagu tak berirama
Selamat tinggal kenangan denganku
Senyumku melepaskan kau pergi
Senyumku melepas kau pergi, Bay. Hahahaha. Tertawa aku dalam hati. Tuhan memang banyak mempertemukan kita dengan banyak orang untuk belajar dan mengajarkan, bukan? Dari kamu, aku belajar mengikhlaskan.
Ruhma Hafia,
Jakarta.
Senin, 13 Juni 2016
perjuangan, diperjuangkan dan memperjuangkan
Salam!!!!
hai gaisss, Ruhma Hafia kembaliiii. hehehe. btw, apa kabarnya di Ramadhan ke-8 nya? masih kuat lah ya imannya. walaupun kadang liat adik lu makan es krim di depan lu atau bisikan-bisikanteman gaib yang ngajakin bukber pas siang bolong. wkwkwk.
btw, sering kan ya denger entah dari temen cewe lo bilang
segaf eh maksudnya sebut saja dia Ipul. dia bilang katanya "susah ya perjuangin cewe tu" terus gue jawab "emang perjuangin buat apa?", dan dia jawab lagi "buat ngedapetin dia lahhh" dan lain sebagainyaaa pokoknya gue chatan ttg itu. terus sampe akhirnya, gue mendapatkan hidayah.....
entah, kalian bakal setuju atau engga dengan pendapat gue tentang hal ini. hehehe
gini, klo menurut gue pribadi perjuangan itu bukan untuk mendapatkannya. perjuangan itu adalah tujuannya untuk memperbaiki diri, bukan bertujuan untuk mendapatkan si dia.
gue justru lebih setuju dengan kata-kata "sama-sama berjuang". karena hakikat sebenarnya perjuangan itu untuk dirinya sendiri berubah menjadi sama-sama lebih baik.
bukannya jodoh itu berbanding lurus? lelaki yang baik utk perempuan yang baik, begitu pula sebaliknya. jadi, berjuang aja buat diri kita makin keren, biar nanti Allah yang memberikan yang terbaik dari usaha terbaik kita.
jadi, Aa ku yang masih belum aku tahu. yuk kita sama-sama berjuang ya A!!!! #eeeee #modus #saaelofi
dah yak, sekian tulisan gue yang sangat abstrak ini. huehehe
Wassalam,
Jatinangor.
Ruhma Hafia.
hai gaisss, Ruhma Hafia kembaliiii. hehehe. btw, apa kabarnya di Ramadhan ke-8 nya? masih kuat lah ya imannya. walaupun kadang liat adik lu makan es krim di depan lu atau bisikan-bisikan
btw, sering kan ya denger entah dari temen cewe lo bilang
"yaiyalah kita kan butuh diperjuangin"atau temen cowo lo yang bilang
"anjay susah ya cewe tuh, maunya diperjuangin terus, nuntut kita memperjuangkan dia mulu"well. entah kenapa gue sering banget denger kaya gini, dan belum lama gue lg ngobrol sama temen gue, dia bilang "ya kan cewe senang diperjuangin kan fi?" sebenernya gue agak bingung sih mau jawab iya atau engga (karena emang sebagai cewe ada rasa ingin diperjuangkan hehehe). terus baru banget tadi sore gue mendengarkan curhat seorang lelaki galau, sebut saja dia
entah, kalian bakal setuju atau engga dengan pendapat gue tentang hal ini. hehehe
gini, klo menurut gue pribadi perjuangan itu bukan untuk mendapatkannya. perjuangan itu adalah tujuannya untuk memperbaiki diri, bukan bertujuan untuk mendapatkan si dia.
gue justru lebih setuju dengan kata-kata "sama-sama berjuang". karena hakikat sebenarnya perjuangan itu untuk dirinya sendiri berubah menjadi sama-sama lebih baik.
bukannya jodoh itu berbanding lurus? lelaki yang baik utk perempuan yang baik, begitu pula sebaliknya. jadi, berjuang aja buat diri kita makin keren, biar nanti Allah yang memberikan yang terbaik dari usaha terbaik kita.
jadi, Aa ku yang masih belum aku tahu. yuk kita sama-sama berjuang ya A!!!! #eeeee #modus #saaelofi
dah yak, sekian tulisan gue yang sangat abstrak ini. huehehe
Wassalam,
Jatinangor.
Ruhma Hafia.
Langganan:
Postingan (Atom)




